Rabu, 07 November 2012

Bulung Khas Bali

Bulung Khas Bali

Sebagian besar lidah masyarakat di luar Bali, pasti tidak suka dengan makanan yang berbau sangat amis ini. Bulung adalah bahasa bali untuk rumput laut. Berbeda dengan rumput laut lainnya yang agak berlendir yang sering dibuat sebagai campuran es campur, rumput laut yang dibuat masakan urap ini tidak berlendir dan helainya lebih kecil dan lebih keras di bandingkan rumput yang berlendir.

Di warung warung kota Denpasar, bulung dijual bersamaan dengan rujak kuah pindang gula dan tipat santok. Warna rumput lautnya putih dan hijau. Asli rumput laut berwarna kehitaman. Setelah dijemur berulang-ulang sampai sekitar 5 hari barulah warnanya berubah menjadi putih kemudian dikeringkan. Kalau menginginkan warna hijau maka rumput laut yang berwarna kehitaman tadi direndam dengan kapur sirih selama 20 menit sampai berubah warna.



Proses pembuatannya bulung :

1. Rumput laut yang kering direndam sampai mengembang selama 3 jam;
kemudian dimasukkan ke dalam air mendidih sekitar 10 menit supaya matang. Setelah itu diamkan sampai dingin.
2. Parutkan kelapa yang sudah dibakar terlebih dahulu.
3. Kuah rebusan ikan laut (biasanya ikan pindang).

Setelah ketiga bahan itu siap, baru disiapkan bumbu-bumbunya. Lombok (cabe) kecil, Terasi, Garam, Lemo (jeruk purut), lengkuas (diparut)
dan penyedap rasa secukupnya.

Bumbu-bumbu tersebut diulek kemudian dicampur dengan parutan kelapa dan lengkuas. Setelah itu baru dicampur dengan rumput laut yang sudah matang dan dicampur jadi satu kebumbu kuah pindang tersebut.

Kalau anda belum pernah jangan mencoba banyak dulu sebaiknya coba sedikit dulu, kemungkinan anda tidak langsung menyukainya karena baunya yang amat amis.

Jika anda akan berlibur ke Bali, jangan lupa anda harus mencoba bulung tersebut.Deden/025

0 komentar:

Posting Komentar